Mungkin banyak yang bertanya,
kenapa sih Indonesia harus impor minyak?
Apa produksi minyak dalam negeri tidak bisa ditingkatkan?
Sejak tahun 1995, produksi minyak indonesia terus menurun sebanyak 35 % selama 10 tahun. Hal ini diakibatkan karena sumur-sumur minyak di indonesia adalah sumur tua yang tingkat produksinya semakin menurun. Ada beberapa upaya untuk menahan laju penurunan produksi sumur minyak ini, antara lain dengan:
- Optimalisasi perawatan sumur dan fasilitas produksi.
- Mempercepat pengembangan lapangan-lapangan baru.
Biasanya cara pertama lebih disukai dan oleh oil company karena memiliki risiko yang kecil. Sementara cara yang kedua memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Pencarian cadangan minyak baru membutuhkan investasi yang besar dan memiliki tingkat risiko yang tinggi. Hal ini membuat beberapa oil company lumayan tidak menyukai eksplorasi selain itu juga terkait dengan biaya cost recovery yang tidak akan dibayarkan oleh pemerintah (BP MIGAS) jika ternyata ladang yang baru tidak menghasilkan.
Semua biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan minyak untuk mencari minyak akan diganti oleh BP MIGAS jika ternyata sumur tersebut benar-benar menghasilkan minyak..tentu saja hal ini sedikit membuat perusahaan minyak gamang untuk melakukan eksplorasi..kalo nemu dibayar kalo gak nemu merugi…
Bila dilihat dari sisi BP MIGAS, tentu saja menginginkan melakukan eksplorasi. Karena ternyata opsi pertama untuk melakukan optimalisasi terhadap cadangan yang sudah ada tidak membawa hasil yang signifikan tapi cost recovery semakin meningkat. Seperti pada grafik di bawah ini

bisa kita lihat cost recovery semakin meningkat dari tahun ke tahun semantara produksi terus menurun. Hal ini disebabkan karena biaya untuk mengembangkan sumur-sumur dan cadangan reservoir yang sudah mature (lama) lebih tinggi dari pada biaya produksi dari cadangan baru.
Peningkatan cost recovery ini disebabkan oleh beberapa hal (menurut BP MIGAS):
Pertama, lapangan minyak di Indonesia mayoritas lapangan tua dan mature, secara alami biaya untuk mengoperasikan sumur ini akan semakin tinggi.
kedua, Peningkatan harga minyak mengakibatkan banyak kegiatan eksplorasi diseluruh dunia sehingga kebutuhan material dan services (besi, baja, rig dan service lainya) untuk melakukan eksplorasi semakin tinggi dan mengakibatkan harga semakin tinggi, peningkatanya sampai 300%
Ketiga, Lapangan-lapangan yang dikembangkan belakangan ini sebagian besar adalah lapangan yang memiliki cadangan kecil sehingga unit cost pengembangannya tinggi
Keempat, Masuknya Pertamina E&P sebagai Kontraktor KKS sejak tahun 2005, memberikan kontribusi kenaikan cost recovery (24%), mengingat biaya produksi minyak per barel Pertamina E&P jauh lebih besar dari rata-rata Kontraktor KKS lainnya.
Ternyata bisnis perminyakan tidak sesederhana yang sering dibicarakan, banyak hal terkait yang mengakibatkan jalanya tidak mudah…
Recent Comments